Thursday, June 13, 2013

Terlepas dari penyebutan Cambodia sebagai negara dengan UMR terendah di Asia Tenggara, kita harus melihat sisi sejarah bangsa ini, sehingga tidak melihat dengan sebelah mata sebuah bangsa yang berupaya bangkit dari keterpurukan perang terlebih sejak kekuasaan rezim Polpot.


Saloth Sar atau yang di kenal dengan Pol Pot, pria berkebangsaan Cambodia 1925 ini merupakan salah satu dari beberapa pemimpin dari Communist Party of Kampuchea sejak 29 April 1975. Ia adalah Sekretaris Umum dari Partai Komunis tersebut dan memiliki aturan sendiri dalam memimpin.
Pada masa kepemimpinan ia menerapkan SocalismAgraria yang atinya warga kota harus diungsikan ke daerah pedesaan untuk bercocok tanam.

Pada tahun 1975 hingga 1979 terjadi pembantaian besar besaran di Cambodia. Hampir 1 juta warga meninggal akibat Malnutrisi, Kerja Paksa dan Pembantaian akibat pemberontakan dari total populasi 8 juta penduduk.
Ada 15 titik pembantaian, di mana hingga saat ini masih di simpan dengan rapih tulang belulang dan pakaian korban di museum musem bersejarah seperti Toul Seong Genocide dan Killing Field Phnom Penh.

Polpot adalah sosok terpelajar yang mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan pendidikan di Perancis. Sekembalinya dari Paris tempat ia melanjutkan pendidikannya selama kurang lebih 3 tahun ia diberikan wewenang untuk mengkoordinir masyarakat yang memberontak kepada Pemerintah.


 Pemandangan menyedihkan ini memberikan gambaran bagaimana Anak anak usia sekolah yang merupakan penerus bangsa  yang bisa membangun negara nantinya diperlakukan tidak seharusnya.
Pengungsian besar besaran warga kota ke country side, menerapkan peraturan Sosialism Agraria yang di usung oleh Polpot dan rekan rekannya.

Pakaian para korban yang meninggal akibat pembantaian di simpan dengan rapih di lemari kaca ini. Pakaian yang di gantung di lemari kaca adalah pakaian yang biasa digunakan oleh petani berwarna hitam. Ada pula pakaian anak anak yang menggambarkan bagaimana kejamnya watak seorang pemimpin Partai Komunis tahun 1975. Beberapa pakaian juga menggambarkan status sosial yang baik di masyarakat. Karena rata rata korban pembantaian adalah orang orang Kaya, Pengusaha dan Orang orang terpelajar bersama keluarganya.


Foto Foto Korban pembantaian di Toul Seoung Genoside


Gedung yang digunakan sebagai penjara yang di kelilingi kawat berduri ini tadinya adalah Sekolah Menengah Atas yang di alih fungsikan.


Foto salah satu korban setelah mengalami penyiksaan, sangat memilukan

Salah satu kumpulan foto yang saya potret dari Musem Tuol Genoside dari begitu banyak bingkai korban. Semoga Tuhan menerima roh mereka.





2 comments:

Berkomentar sesuai topik dan memasukkan link akan terhapus otomatis